Postingan

Partai Politik Dalam Demokrasi Indonesia

            Indonesia segera bersiap menghadapi Pemilihan Umum (Pemilu) dan Pemilihan Presiden (Pilpres) pada 2019 nanti.Pemilu kali ini akan menjadi pemilu kelima pasca orde baru dan akan menjadi pilpres keempat dalam sejarah Indonesia.Diadakannya suatu pemilu dapat menjadi salah satu indikator bahwa di negara tempat diadakannya pemilu tersebut memiliki sistem demokrasi yang baik.Menurut banyak pengamat perpolitikan dan demokrasi di dunia,Indonesia pasca orde baru tumbang pada tahun 1998 dianggap memiliki sistem demokrasi paling baik dan stabil serta dipandang terus berada dalam tren positif ketimbang negara-negara di kawasan Asia tenggara lainnya.Hal ini dibuktikan dengan kebebasan pers yang terjamin dan tentunya pemilihan umum yang rutin diadakan lima tahun sekali yang dalam prosesnya selama ini cenderung aman,damai dan tertib.Setidaknya, bila dibandingkan dengan negara tetangga kita Thailand yang kini dikuasai oleh rezim m...

Halo Tuhan?

Hei,halo?Tuhan kan? Apa kabar? Lama tak jumpa Kata orang kau begitu berkuasa Tiap nyawa di dunia kau yang punya Tapi kenapa sekarang banyak yang gantikan peranmu Mengancam orang seolah dia lebih berkuasa darimu Hei,Tuhan coba beri aku jawaban Katanya kamu maha pengasih lagi penyayang Kok ada orang ingin berkasih engkau larang Katanya berbeda iman Padahal iman kami satu yaitu engkau Terlepas dari dogma yang diajarkan Hei,Tuhan katanya surga dan neraka itu urusanmu Tak ada satupun yang tahu tentang itu Tapi kenapa banyak orang turun dijalan Bersorban putih berteriak lantang Didepan mukaku ia teriakkan Hei,Kafir!! Enyah engkau penghuni neraka! Tiada yang benar selain yang kami teriakkan Tiada yang salah dari yang kami lakukan Hei,Tuhan benarkah mereka? Bukankah engkau yang paling tahu siapa yang benar? Bukankah engkau yang paling tahu siapa yang akan menghuni surgamu kelak? Lalu kenapa mereka merasa paling benar? Seolah aku ini hina,nista,tiada nilainya di dunia P...

Gerak Lokomotif

Sendu suara kereta memekik Membawa teriakan orang menjerit Yang tersingkir gerak lokomotif Orang banyak bekerja Hinga lupa cara istirahatkan jiwa Orang banyak membenci Hingga lupa cara mencinta Perang dikobarkan Perbedaan semakin di tebalkan Toleransi tak dijunjung tinggi Semua diabaikan demi kepentingan pribadi Inilah realitas masa kini Remaja menggandrungi hal berbau kiwari Dan diperbudak oleh mereka punya gawai Menjadi generasi yang apatis dan juga abai

Sepeda Tua

Sendu Pilu Jalan Sepeda Tua Itu Tak kuat lagi ia berjalan menanggung pilu Bersedih kala ia melintasi waktu Duhai emosi diri Yang mengekang gerak hati Aku ingin bebas mencinta Aku ingin dekati tiap wanita Tapi mengapa tiap ku tenggelam dalam lamunan Teringat kamu yang buatku kasmaran Ibu dokter yang kutemui di ruang obrolan Sekali-kali aku ingin terbangkan perasaan Layaknya merpati di ujung hari Tapi seberapa keras aku mengejar Aku takkan sanggup menggapainya Y ang kutunggangi hanyalah sepeda  tua Bukan seekor kuda nan gagah perkasa Dan sekiranya aku kan tetap di jalan itu Menelusuri waktu mengingat dirimu Ibu dokter yang buatku rindu

Sepak Bola Kita

Lagi dan lagi kudengar nyawa meregang Hanya karena berbeda kebanggaan Lagi dan lagi seorang ibu berelegi Meratapi kepergian anak semata wayang Bukankah sepak bola harusnya menyatukan Berdiri berdampingan tanpa hiraukan perbedaan Bukankah sepak bola hanyalah permainan Dimana menang  kalah adalah suatu kewajaran Mengapa harus kita putus persaudaraan Demi suatu permainan yang penuh kefanaan Mengapa kita bertindak layaknya binatang Dan mengabaikan arti dari kemanusiaan Padahal kemanusiaan itu layaknya rahim ibu Merawat kehidupan dan menguatkan yang rapuh Setiap pertandingan memiliki harganya Dan tak ada yang lebih berharga daripada sebuah nyawa

Sar

Sar.. ra sanya baru sejam kita bertemu Tahu-tahu kau mampir di mimpiku Kau tanya apa kabarku Ku jawab merindukanmu Tak ingin ku segera terbangun Berakhir dengan wajah tertegun Ku masih ingin bermimpi Menyambut datangnya sang mentari Si jago masih saja berdiri Menatap ku masuk tanpa permisi Tau tau ia bernyanyi Mengakhiri kisah penuh ilusi Akupun berdoa pada sang ilahi Kukatakan turunkan lagi seribu bidadari Akan ku jawab dengan pasti Hanya dirimu yang kunanti

Perempuan Perempuan Itu

Sudah ku bilang jangan kau panggil aku Menoleh sedikitpun aku tak mau Tak sudi aku kembali ke lorong waktu Hanya untuk kembali dikekang kamu Beritahu juga temanmu itu Agar tak lagi temui diriku Urusi saja suraunya itu Yang mulai bobrok dimakan waktu Aku harap kamu jangan merayu Urus saja pujaan hatimu Biar kata aku tak setampan abimanyu Para banci mengantre inginkan diriku