Postingan

Menampilkan postingan dari 2017

Lupa Sederhana

Ajari aku cara hidup sederhana Agar aku ingat janjiku pada kaum sudra Ingatkanku untuk hidup sederhana Agar aku tidak kehilangan suara Aku sadar diriku ini penguasa Ditanganku seluruh nusa berada Tapi siapa yang buatku ke singgasana? Apakah para penjilat yang haus kuasa? Agaknya aku harus kembali ke bawah Menyadari takdirku sebagai sang messiah Memikul harapan yang telah pudar Menjadi pelita yang bersinar Tapi ingatkan aku sebelumnya Karena agaknya aku lupa sederhana

Pagi Buta

Yo temen temen kali ini gua mau pos cerpen gua tapi kali ini lumayan serem sih,saran gua jangan buka blog ini pas malem malem karena jujur waktu gua bikin ini cerita adalah malem malem dan sekarang gua jadi parno sendiri mau ke kamar mandi 😢😢😢 ok silahkan di lihat. ........ Pagi Buta Hai gua Samsul seorang murid kelas 2 di suatu Sekolah Menengah Favorit di Jakarta. Gua punya kebiasaan yang sering dicibir temen gua tapi sering dipuji guru-guru,ya benar gua sering dateng pagi. Bahkan saking paginya dateng, Pak Kasman si penjaga sekolah sering kaget ngeliat gua udah dateng dari jam lima pagi. Hari itu suasana biasa saja,suasana sekolah yang sepi hingga membuat suara langkah kakiku terderngar begitu keras, warna cat yang mulai memudar dimakan usia membuat suasana sekolah ini semakin sunyi,konon berita yang gua dengar sekolah ini adalah bekas rumah sakit Belanda. Entah apa yang sang pembuat rumor pikirkan hingga membuat rumor macam itu. "Ah iya ...

Belum siap Untuk Cinta

Hai,Ok guys balik lagi sama gua di blog yang saat ini berubah nama dari Diary Pelajar Bodoh jadi Pojok Sunyi ini. Gua mau tanya kalian bosen ga sih sama puisi puisi gua yang kayak orang galau habis diputusin sama pacarnya? (Padahal gua belum pernah pacaran :'v ) nah pasti bosen kan wkwkw. Kalo begitu daripada kalian bosen dan ninggalin blog ini lama lama,nih ada puisi dari temen gua,mau liat gimana?ok check this out "sambil make headset kayak dj di acara dugem padahal headsetnya ga nyolok di mp3 player" ...... Belum Siap Untuk Cinta Saat hati diterpa sunyi Pikiran pun terasa mati Tidak ada yang bisa menandingi Kecuali senyuman sang pujaan hati Ingin rasanya diriku mencintai Apakah pantas aku tuk dicintai Kurasa tidak untuk saat ini Karena ku tak siap untuk sakit hati Ku tak siap untuk ditinggal pergi Ku tak siap untuk termenung sendiri Mungkin memang belum saatnya diriku tuk mencintai Karena ku ingin pujaan hati yang sehidup semati Oleh : Agus Triatmoko Na...

Langit Biru

Tak pernah terpikirku tuk mendekatimu Yang ku tahu aku hanya mengagumimu Senyummu,sikapmu alihkan duniaku. Kau seperti merpati Terbang tinggi dan selalu ku kagumi Kau seperti langit biru Selalu indah dimataku. Tapi aku tahu Aku tak mungkin dekatimu Aku tak mungkin milikimu Aku hanya akan buatmu terganggu Dengan sikap dan egoku Aku bukan siapa-siapa Melainkan mahluk yang menjijikkan Yang kesepian tanpa teman Kehadiranku tak pernah kau harapkan Kehilanganku pun takkan kau rindukan Pada akhirnya aku hanya duduk disini Mengagumi senyum dan sikapmu Yang selalu membuatku tersenyum malu Karena aku bukan yang kau harapkan Dan bukan pula yang kau rindukan Tapi ketahuilah... Aku selalu mengagumimu Di sini.... Di bawah langit biru

Pelita

Gelap berarti tak ada cahaya Gelap berarti tak ada pelita Gelap berarti tak ada harapan Gelap berarti jutaan rakyat tak bisa makan Gelap juga berarti jutaan anak tanpa pendidikan Sementara diatas para cukong tertawa Mata menyipit mulut menganga Aku terusik ingin mengkritik Namun omonganku hanya sampai di mesin ketik Mesin ketik pak polisi yang macet Yang tak bisa mengetik siapa sang penculik pujangga dhuafa Aku terdiam merenungkan bangsa Namun tertawa melihat gadis belia Bagaimana bisa melahirkan habibie Bila bersolek tak sesuai diri Bagaimana bisa melahirkan hatta Bila rok pendek terangkat menganga Aku pun tersadar siapaku sebenarnya Aku bukan singa podium Bukan pula jenderal bintang lima Aku hanya segelintir dari jutaan Yang hanya bisa berteriak dari panggung penderitaan Tugasku hanya memastikan calon singa berikutnya menggapai pelita Agar tak gagal seperti orang tuanya

Badai

Jangan kau menunggu di tengah badai Menepilah sejenak agar kau tak binasa Jangan kau lawan api dengan api Kau hanya kan temukan sengsara Orang bijak pernah berkata Siapa yang dapat berdamai dengan hatinya Niscaya ia kan dapati dunia denganya Dan bila ia membuka hatinya Maka ia dapati langit memujinya Berdamailah dengan hati wahai diri Sesungguhnya kita ini calon mati Bila telah terlepas nyawa dari diri Dimanakah mahkota yang melekat di diri Sungguh mengapa kita bersikap langit Padahal tanah adalah asal kita yang hakiki

Siapa

Siapakah Kita? Yang berjalan dengan congkak Padahal hanya seorang budak Siapakah mereka? Yang bergaya susah Padahal hidupnya megah Kujumpai kemunafikan di muka bumi Menyelinap diantara kata cinta Kujumpai dusta Dimulut raja-raja dunia Oh alam.... Siapakah kami? Yang bertingkah seolah dimensi ini Adalah kepunyaan kami Mengapa terusir? Padahal siapakah diri? Oh alam... maafkan kami Seandainya tak ada kemunafikan di muka bumi Mungkin masa tuamu bisa lebih baik lagi

Surat untuk seorang kawan

Kawan... Apa kabar kau disana Di tanah airmu yang tenang Kawan... Hari ini masih ku jumpai kemunafikan Masih ku jumpai dusta di balik cinta Dan kujumpai tangis dibalik senyum Kawan... Hari ini kutemui istana diatas gubuk tua Tuannya suka berpesta Sementara Budaknya Nelangsa Aku termenung di pojok sunyi Memahami realitas ini Lalu akhirnya aku menyadari Kita hanya etinitas kecil di semesta yang luas ini Kita hanya lah para sudra Yang hidupnya ditakdirkan nelangsa Kawan... Orang bijak berkata Janganlah kau benci hujan Petirnya boleh membakar Namun rintiknya sumber kehidupan Pada akhirnya inilah aku Terkubur bersama kesunyian di pojok sepiku

Angin

Aku ingin menyatu dengan malam Menyatu dengan hembusannya Terbang melayang-layang Menari nari dengan ribuan bintang Sejenak aku ingin lepas dari dusta Dusta yang senantiasa terucapkan kita Diantara dusta yang mengungkapkan Akan siapakah kita selama ini Aku ingin berada diatas sini Melayang dihempas angin Yang aku ingin hanyalah kesunyian Sembari menikmati keresahan mu Sayang tunggulah sebentar Sebentar lagi malam Dan kita kan bersama diantara bintang Dalam keabadian