Partai Politik Dalam Demokrasi Indonesia
Indonesia
segera bersiap menghadapi Pemilihan Umum (Pemilu) dan Pemilihan Presiden
(Pilpres) pada 2019 nanti.Pemilu kali ini akan menjadi pemilu kelima pasca orde
baru dan akan menjadi pilpres keempat dalam sejarah Indonesia.Diadakannya suatu
pemilu dapat menjadi salah satu indikator bahwa di negara tempat diadakannya
pemilu tersebut memiliki sistem demokrasi yang baik.Menurut banyak pengamat
perpolitikan dan demokrasi di dunia,Indonesia pasca orde baru tumbang pada
tahun 1998 dianggap memiliki sistem demokrasi paling baik dan stabil serta
dipandang terus berada dalam tren positif ketimbang negara-negara di kawasan
Asia tenggara lainnya.Hal ini dibuktikan dengan kebebasan pers yang terjamin
dan tentunya pemilihan umum yang rutin diadakan lima tahun sekali yang dalam
prosesnya selama ini cenderung aman,damai dan tertib.Setidaknya, bila
dibandingkan dengan negara tetangga kita Thailand yang kini dikuasai oleh rezim
militer setelah perdana menteri dari kalangan sipil yang terdahulu Yingluck
Shinawarta dijungkalkan melalui kudeta oleh pihak militer atau Malaysia yang
sebelum pemilu Malaysia 2018 selalu dimenangkan oleh koalisi petahana yaitu
Barisan Nasional.Demokrasi di Indonesia cenderung lebih baik,tidak ada
peristiwa berdarah hingga kudeta atau monopoli kekuasaan oleh beberapa golongan
dalam perebutan kekuasaan di Indonesia.Sayangnya dalam usahanya menunjukkan
bahwa negeri ini adalah negeri yang demokratis,Salah satu pilar dalam demokrasi
sendiri yaitu partai politik di Indonesia malah menunjukkan sikap yang jauh
dari nilai demokrasi itu sendiri.
Dalam
sejarahnya partai politik pernah begitu berkuasa dalam perpolitikan Indonesia,tepatnya
saat era Demokrasi Parlementer. Saat itu keputusan-keputusan dalam pemerintahan
Indonesia kerap diambil oleh koalisi-koalisi partai politik yang bergantian
memimpin kabinet. Sayangnya perbedaan ideologis partai-partai tersebut malah
acap kali membuat keputusan-keputusan yang diambil dalam menjalankan negara
menjadi sulit dilaksanakan akibat pertentangan antara pihak koalisi petahana
dan oposisi. Hal inilah yang tidak disukai oleh Jenderal A.H. Nasution yang
kelak mendukung rencana Presiden Soekarno dalam mengambil alih peran partai
politik dalam pemerintahan Indonesia atau yang kelak kita kenal sebagai
Demokrasi Terpimpin.
Pasca
Soekarno lengser akibat peristiwa G30S dan digantikan oleh Orde baru yang
dipimpin oleh Jenderal Soeharto partai politik Indonesia mengalami kemunduran
akibat program penggabungan partai politik oleh pemerintahan Orde Baru yang
dilakukan demi menjaga stabilitas nasional saat itu.Pada Masa itu Pemilu di
Indonesia sering dimenangkan oleh Golongan Karya yang menjadi kendaraan politik
Soeharto sedangkan partai lain terkesan hanya menjadi pelengkap,inilah masa
kemunduran kedua demokrasi dan partai politik di Indonesia setelah masa
Demokrasi terpimpin.Terjadi juga penjegalan-penjegalan nilai-nilai demokrasi
yang coba diwujudkan partai politik Indonesia saat itu oleh pemerintah seperti
peristiwa Kudatuli (Kerusuhan Dua Puluh Tujuh Juli) pada tahun 1996,dimana
pemerintah saat itu mencoba mengganti kepengurusan Partai Demokratik Indonesia
yang secara sah seharusnya dipimpin oleh Megawati.
Keadaan
seperti itu terus bertahan hingga pemerintahan Orde Baru Tumbang pada tahun
1998. Angin segar demokrasi dalam perpolitikan Indonesia mulai terasa. Hal ini
dibuktikan dengan banyaknya jumlah partai politik yang terlibat dalam pemilu tahun
1999. Namun,majunya demokrasi di Indonesia tidak dibarengi dengan kemajuan
demokrasi di internal partai politik di Indonesia.Alih-alih menunjukkan
nilai-nilai demokratis sebagaimana fungsinya sebagai ciri-ciri negara
demokrasi.Partai Politik cenderung dikuasai oleh beberapa figur tokoh dan
keluarga.Bisa kita lihat bagaimana partai-partai besar di Indonesia cenderung
memiliki pemimpin yang itu-itu saja sejak akhir orde baru. PDI-P misalnya,sejak
1999 konsisten dipimpin oleh Megawati sebagai ketua umum.Tidak ada tanda-tanda
bahwa ia akan turun sekalipun pada internal partai,cukup banyak kader-kader
yang kompeten seperti Presiden Indonesia saat ini Joko Widodo atau walikota
Surabaya Tri Rismaharini.Megawati malah cenderung ingin memberikan jabatan ini
kelak kepada putrinya Puan Maharani.Contoh lain yang bisa kita ambil adalah
Partai Demokrat,sejak didirikan pada 2001 pengaruh cikeas sulit sekali
dipisahkan dari partai ini.Kita tahu bahwa Partai ini sejak awal kemunculannya
memang dianggap sengaja dibentuk oleh Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai
kendaraan politiknya dalam menghadapi pemilihan presiden 2004 dan selama
puluhan tahun berikutnya partai ini masih dipimpin oleh SBY,sempat memang
partai ini dipimpin oleh Anas Urbaningrum sebelum dirinya terjerat kasus
korupsi.namun rumor yang beredar mengatakan bahwa kemenangan Anas Urbaningrum
pun tidak bisa dilepaskan dari restu SBY. Bahkan SBY pun memiliki langkah yang
mirip dengan Megawati yang ingin menjadikan anaknya sebagai orang nomor satu
yang baru di partai.Caranya adalah dengan banyak mendorong anaknya Agus
Yudhoyono untuk tampil dalam berbagai kesempatan politik seperti Pilgub DKI
Jakarta 2017 yang lalu. Contoh terakhir mungkin bisa kita lihat dari Partai
Amanat Nasional (PAN) Partai yang didirikan Amien Rais ini sangat sulit
dilepaskan dari pengaruhnya.Sekalipun Amien Rais sudah tidak menjabat sebagai
ketua umum lagi.Namun,posisi ini diisi oleh Zulkifli Hasan yang notabene adalah
besannya. Hal ini menunjukkan bahwa tidak terjadi proses demokrasi dalam internal
partai politik Indonesia.Pesona dan kharisma suatu figur masih memegang peranan
penting dalam kekuasaan partai politik di Indonesia.Mandeknya demokrasi di
internal partai juga bisa kita lihat pada kasus beberapa kader partai Demokrat
seperti mantan Gubernur NTB Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi,mantan
Gubernur Jawa Timur Soekarwo dan Gubernur Papua Lukas Enembe yang dimana
ketiganya adalah kader partai Demokrat yang memilih untuk memihak Joko Widodo
dalam Pemilu 2019 nanti,melawan keputusan partai yang mengusung Prabowo
Subianto.Hal ini menunjukkan ketidakpuasan kader partai atas keputusan elite
partai yang mungkin diambil tanpa mendengar pendapat kader lain.Hal ini kontras
bila dibandingkan dengan keadaan di Amerika Serikat misalnya. Pada periode
2008-2016 Obama pernah sangat berpengaruh dalam internal partai
Demokrat.Namun,pasca ia turun dari jabatannya sebagai presiden,kini pengaruh
beliau tidak terasa lagi dalam setiap kebijakan yang diambil partai,sekarang
kebijakan partai banyak dipengaruhi oleh Hillary Clinton. Hal ini menunjukkan
bahwa nilai-nilai demokrasi begitu tercermin dalam internal partai politik,ada
kesempatan untuk kader lain berpendapat dan menunjukkan pengaruhnya.
Pada
akhirnya kondisi ini bila terus dibiarkan justru akan menjadi hal yang buruk
bagi demokrasi di Indonesia. Karena partai politik yang seharusnya menjadi
contoh bagi masyarakat dalam menjalankan demokrasi justru tidak menunjukkan
nilai-nilai demokrasi itu sendiri. Hal ini akan membuat rakyat berpikir bahwa kebijakan
politik Indonesia hanya diambil oleh beberapa elite saja seperti yang
ditunjukkan oleh partai-partai politik.Imbasnya tentu kepercayaan rakyat pada
pemerintahan akan menurun.sekarang semuanya terserah bagaimana partai
menghadapi kondisi ini.Akankah mereka mengubah kebijakan di lingkungan
internalnya agar lebih demokratis atau akan tetap mempertahankan pengaruh figur
demi mendapat suara di pemilu selanjutnya.
Komentar
Posting Komentar